Petani Tua dan Pengacara

humor-petani-tua-dan-seorang-pengacara

Seorang pengacara terkenal dari kota besar pergi berburu ke sebuah desa yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Dia menembak dan menjatuhkan burung tetapi jatuh ke sebuah pekarangan yang tertutup oleh pagar. Ketika pengacara itu mau memanjat pagar untuk mengambil buruannya, seorang petani tua yang sudah keriput dan bongkok bertanya kepadanya apa yang ia lakukan.

Pengacara: “Saya menembak seekor burung dan jatuh di pekarangan ini. Saya akan mengambilnya.”
Petani Tua: “Ini pekarangan saya, dan Anda tidak boleh masuk ke sini.”

Pengacara: (Karena merasa terkenal lalu marah) “Saya salah satu pengacara pengadilan terbaik di negara ini, dan jika Anda tidak membiarkan saya untuk mengambil burung tersebut, saya akan menuntut Anda dan mengambil semua yang jadi milik Anda.
Petani Tua: (Tersenyum) “Tampaknya, Anda tidak tahu bagaimana kita menyelesaikan perkara dengan adat disini ya? Kita menyelesaikan perselisihan kecil seperti ini dengan peraturan ‘Tiga kali tendangan’.”

Pengacara: “Apa itu peraturan ‘tiga kali tendangan’?”
Petani Tua: “Yah, pertama saya menendang Anda tiga kali terus gantian Anda menendang saya tiga kali, dan seterusnya, bolak-balik, sampai ada yang menyerah.”

Pengacara: (Berpikir tentang kontes yang diusulkan dan ia merasa dengan mudah mengalahkan seorang petani tua yang keriput itu. Dia setuju untuk mematuhi adat daerah itu). “Oke pak tua saya setuju!” (dalam hati). “Masa kalah main tendang-tendangan sama orang tua kaya gini.”
Petani Tua perlahan-lahan berjalan tertatih tatih ke arah pengacara itu. Tendangan pertama ditujukan ke selangkangan pengacara itu. Tendangan itu menyebabkan pengacara itu jatuh berlutut menahan sakit. Tendangan kedua diarahkan ke tulang rusuk pengacara itu, membuatnya kembali jatuh berlutut menahan sakit. Dan tendangan ketiga dia arahkan tepat ke muka pengacara hingga menjerit kesakitan. Sambil menahan rasa sakit pengacara itu memikirkan tendangan balasan yang akan dia berikan untuk pak tua itu. Dengan tertatih-tatih dia bangkit berdiri.

Pengacara: “Oke, pak tua, sekarang giliranku.”
Petani Tua: (Tersenyum) “Tidak, saya menyerah. Anda boleh masuk pekarangan ini dan bawa pulang burungnya.” (Riajenaka.com)

Click to comment