Kenal Dekat dengan Wereng Coklat

Wereng batang coklat memiliki berbagai nama berdasarkan sifatnya, yaitu si kecil yang dahsyat, hama tua, hama laten, dan penyebar penyakit virus. Hama padi ini sejak tahun 1930 sudah menjadi kendala dalam produksi beras di Indonesia. Wereng batang coklat termasuk ordo Homoptera, subordo Auchenorrhyncha, infra-ordo Fulgoromorpha, famili Delphacidae, genus Nilaparvata, dan spesies Nilaparvata lugens Stal. Wereng batang coklat tersebar luas di daerah palaeartik (China, Jepang, dan Korea), wilayah oriental (Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Malaysia, Serawak, Taiwan, Thailand, Vietnam, dan Filipina), dan wilayah Australian (Australia, Kepulauan Fiji, Kaledonia, Kepulauan Solomon, dan Papua Nugini) (Baehaki 1993).

 Saat ini, wereng batang coklat telah menjadi hama global (the very important global pest). Pada tahun 2010, selain Indonesia, hama ini juga menyerang pertanaman padi di China, Vietnam, Thailand, India, Pakistan, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Korea. Wereng batang coklat merupakan hama laten yang sulit dideteksi, tetapi keberadaannya selalu mengancam kestabilan produksi padi nasional. Di Indonesia wereng batang coklat menjadi populer dengan sebutan hama “eksekutif, legislatif, dan yudikatif”. Disebut hama eksekutif karena setiap ada ledakan wereng batang coklat akan menyibukkan dan menyita waktu para pemimpin tingkat pusat sampai daerah untuk mengendalikannya.

Disebut hama legislatif karena tidak sedikit anggota DPR mempertanyakan kinerja eksekutif terkait menurunnya produksi beras akibat serangan wereng batang coklat, dan disebut hama yudikatif karena satu-satunya hama yang mencegah penggunaan insektisida melalui Instruksi Presiden No. 3 tahun 1986. Perkembangan wereng coklat memang luar biasa cepat. Perkembangan populasi wereng coklat pada kondisi makanan tanpa batas mengikuti persamaan eksponensial Nt = N0e 0,103t , yang mana Nt = populasi pada waktu ke-t, N0 = populasi awal, t = waktu (hari), dan e = bilangan dasar logaritma, 2,7183. Berdasarkan persamaan tersebut maka selama 70 hari satu ekor induk betina dapat menghasilkan anak betina sebanyak 1.353 ekor dan selama tiga bulan akan menghasilkan 10.615 ekor anak betina. Di lain pihak, pemeliharaan sepasang wereng makroptera imigran selama 60 hari menghasilkan keturunan sebanyak 15.000 ekor pada generasi ketiga dan menimbulkan puso. 

Serangan wereng batang coklat di lapangan berfluktuatif, mulai ringan sampai mencapai puncak perkembangannya saat terjadi ledakan yang menimbulkan puso/mati terbakar (hopperburn). Wereng batang coklat menyerang langsung tanaman padi dengan mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman menjadi kering. Serangan tidak langsungnya yaitu wereng dapat mentransfer tiga virus yang berbahaya bagi tanaman padi, yaitu virus kerdil hampa, virus kerdil rumput tipe 1, dan virus kerdil rumput tipe 2. Bae dan Pathak (1970) melaporkan bahwa pemeliharaan nimfa wereng batang coklat 100 dan 200 ekor selama 3 hari pada tanaman padi TNI berumur 25 hari setelah tanam (HST) akan menurunkan hasil masing-masing 40% dan 70%. Bila nimfa dipelihara pada tanaman padi TNI umur 50-75 HST, hasil akan menurun masingmasing 30% dan 50%.

Selanjutnya, Baehaki (1985) melaporkan bahwa tanaman padi Pelita I/1 yang terinfeksi 1,23 ekor wereng batang coklat selama pertumbuhannya akan menurun produksinya 21-28,9%. Bila selama pertumbuhan tanaman padi Pelita I/1 terdapat 44,12 ekor wereng coklat maka produksi akan menurun 54,6-59,1%. Pada 2010 saat terjadi serangan wereng batang coklat imigran 15 ekor/rumpun pada tanaman umur satu bulan, dalam 10 hari tanaman menjadi puso. (Prof. Baehaki)

Click to comment