Pertanian Berkelanjutan dengan Pemupukan Organik

Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), suatu bentuk yang memang harus dikembangkan jika kita ingin menjadi pewaris yang baik yang memikirkan keselarasan antara pemenuhan kebutuhan saat ini dan pelestarian sumberdaya lahannya. Pembangunan pertanian yang dilaksanakan masa lalu belumlah sepenuhnya menggunakan prinsip pembangunan yang berkelanjutan, sehingga terjadi penurunan kualitas lingkungan/lahan akibat pencemaran (misalnya: pupuk dan pestisida), sehingga mengganggu keberlanjutan pertanian.


Penggunaan pupuk kimia yang berkonsentrasi tinggi dan dengan dosis yang tinggi dalam kurun waktu yang panjang menyebabkan terjadinya ketimpangan (ketidak seimbangan) hara lainnya dan semakin merosotnya kandungan bahan organik tanah. Kejadian semacam ini banyak terjadi pada lahan-lahan sawah yang selalu dibudidayakan tanaman padi secara terus menerus dengan tanpa penambahan bahan organik tanah, sehingga terjadi pengurasan hara tertentu dan terjadi defisiensi Zn dan Cu. Dilaporkan sekitar 60% areal sawah di Jawa kandungan bahan organiknya kurang dari 1%, sementara sistem pertanian bisa menjadi sustainable (berkelanjutan) jika kandungan bahan organik tanah lebih dari 2%. Ketimpangan hara dan merosotnya bahan organik tanah akan menyebabkan degradasi kesuburan tanah yang akan mengancam keberlanjutan usaha tani.

Terkait perbaikan kesuburan kimia tanah, penambahan bahan organik akan meningkatkan hara dalam tanah secara lengkap seperti hara N, P, K, S dan hara lainnya. Pupuk organik tidak hanya memasok hara makro, namun mempunyai kelebihan dalam mensuplai unsur hara mikro (terutama Fe dan Zn). Peningkatan hara dalam tanah sangat tergantung oleh macam bahan organik yang digunakan atau komposisi bahan organiknya. Disamping itu akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mengikat hara, sehingga hara akan lebih tersedia dalam kurun waktu yang relatif lama, sehingga menjamin keberlanjutan kesuburan. Hal ini dikarenakan selama proses dekomposisi bahan organik akan dihasilkan humus (koloid organik)yang dapat menahan unsur hara dan air, sehingga dapat meningkatkan daya simpan pupuk dan air di tanah. Kelebihan pupuk organik yang lain mampu menetralkan pH tanah, dapat meningkatkan pH tanah di tanah yang masam, dan dapat menurunkan pH tanah di tanah yang alkali, sehingga mampu menjamin pH tanah sesuai untuk pertumbuhan tanaman.    

Pemupukan organik akan memperbaiki kesuburan fisika tanah dalam pembentukan agregat tanah, misalnya untuk tanah lempung yang berat (sulit diolah), penambahan bahan organik agregat tanah akan menjadi remah yang relatif ringan untuk diolah. Penambahan bahan organik tanah membuat aerasi tanah akan menjadi lebih baik karena ruang porinya bertambah (porositas meningkat), sehingga menjamin udara tanah. Sememtara untuk tanah pasir akan membentuk agregat yang lebih remah sehingga mudah diolah, dan meningkatkan daya ikat air atau kemampuan menyediakan air tanah lebih banyak, sehingga tidak cepat terjadi kekeringan.    

Penambahan pupuk organik juga mampu memperbaiki kesuburan biologi, dimana mikroorganisme tanah saling berinteraksi dengan bahan organik, yang berperan sebagai pendaur ulang hara dalam tanah, sehingga hara akan lebih tersedia untuk tanaman. Dari aspek tanaman, hasil perombakan bahan organik dapat menghasilkan asam amino yang dapat diserap tanaman dengan segera, dan bahan organik banyak mengandung sejumlah zat pengatur tumbuh dan vitamin yang dapat menstimulasi pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, penggunaan pupuk organik ini mampu menjamin ketersediaan hara dalam kurun relatif lama, membuat tanah lebih remah, sehingga menjamin kelestarian kesuburan tanah, dan dapat menjamin keberlanjutan usaha tani.    

Dalam praktek pertanian organik secara murni, pemupukan organik secara penuh memang sangatlah sulit, karena jumlah unsur hara yang dikandung dalam bahan organik memang relatif rendah, sehingga memerlukan bahan yang relatif banyak. Misalnya kandungan hara N pupuk organik berkisar 1,5 – 2,5% tergantung jenis pupuk organiknya, sementara Urea mengandung N sebesar 45%. Konsekwensinya penggunaan pupuk organik hampir 25 kali lebih banyak dibanding dengan Urea. Apabila kebutuhan hara akan dicukupi dari pupuk organik saja, maka dibutuhkan jumlah pupuk organik yang sangat banyak, sementara ketersediaan pupuk organik di lapang sangat terbatas mengingat jumlah pemilikan ternak oleh petani semakin berkurang. Demikian juga harga pupuk organik dalam jumlah banyak tidak mungkin dilakukan berdasarkan pertimbangan ekonomis. Oleh karena itu selain pupuk organik, penggunaan pupuk anorganik masih dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan hara. (Solopos)

Click to comment