Pengembangan Gandum Tropis di Indonesia

Gandum atau lebih populer disebut terigu merupakan bahan pangan pokok kedua setelah beras di Indonesia. Perubahan pola konsumsi pangan membuat kebutuhan tepung terigu cenderung terus naik setiap tahun. Untuk memenuhi kebutuhan terigu nasional, pemerintah harus mengimpor seluruhnya karena komoditas pangan subtropik ini belum berkembang di dalam negeri. Bila konsumsi gandum terus meningkat dengan harga yang terus merangkak naik di pasar dunia, diperkirakan akan terjadi kelangkaan terigu di pasar dalam negeri.


Hal ini tentu akan menjadi kendala bagi keberlanjutan industri pangan sehingga perlu dicarikan jalan pemecahannya. Oleh karena itu bangsa Indonesia perlu segera mulai menggali potensi tanaman gandum yang dapat tumbuh dan berkembang di alam tropis seperti Indonesia. Untuk itu perlu dilakukan penelitian tanaman gandum, diantaranya melalui program pemuliaan tanaman dengan tujuan mendapatkan varietas gandum unggul pada kondisi tropis, pemasyarakatan budidaya tanaman gandum, dan pengembangan gandum di tingkat petani pada agroekosistem yang cocok.

Upaya ini dapat mendukung pembangunan ekonomi rakyat dan juga memperkuat sistem ketahanan pangan bangsa Indonesia di masa depan. Tanaman gandum (Triticum aestivum L.) sebetulnya dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik pada beberapa lahan pertanian di Indonesia, khususnya pada daerah dataran tinggi yang bersuhu sejuk. Namun demikian, penelitian dan pengembangan budidaya gandum di Indonesia masih sangat terbatas. Karena gandum bukan merupakan tanaman asli Indonesia, maka keragaman genetik tanaman yang tersedia masih sangat terbatas.

Varietas gandum yang ada di Indonesia berasal dari introduksi atau didatangkan dari negara lain. Biasanya setelah melalui tahapan pengujian daya adaptasi pada beberapa agroekosistem yang cocok dan daya hasil di beberapa lokasi percobaan, kemudian varietas introduksi dilepas menjadi varietas gandum baru nasional. Oleh karena itu, program pemuliaan gandum di Indonesia diarahkan pada perakitan varietas unggul tropis yang mampu beradaptasi di dataran rendah. Seleksi galur dan evaluasi keragaman genetik memberi peluang bagi perbaikan karakter dan pemilihan genotipe unggul. Untuk meningkatkan produktivitas gandum diperlukan varietas/galur yang secara genetik berdaya hasil tinggi yang didukung antara lain oleh faktor genetik dan lingkungan. Salah satu kriteria keberhasilan program pemuliaan gandum di Indonesia adalah kemampuan untuk merakit varietas unggul yang adaptif pada lokasi dengan ketinggian kurang dari 400 m dpl.

Hasil penelitian di Pasuruan dan Kuningan dengan ketinggian lokasi 600 m dpl menunjukkan bahwa gandum dapat berproduksi dengan baik karena mendapat angin dingin pada bulan Juli, Agustus, bertepatan dengan fase pembungaan gandum. Badan Litbang Pertanian telah meneliti dan mengembangkan tanaman gandum di Indonesia dengan mengintroduksikan galur atau varietas gandum dari negara lain.

Pemuliaan gandum tropis galur CBD20 mampu berproduksi 6,5 t/ha di Tosari, Jawa Timur, pada ketinggian 1.850 m di atas permukaan laut (dpl). Sementara galur OASIS/SKAUZ//4*BCN dengan hasil produksi 2,37 ton/ha di Merauke, Papua, pada ketinggian 15 m dpl. Di Malino, Sulawesi Selatan, pada ketinggian 600 m dpl, galur VEE/PJN/2*TUI memberi hasil 1,15 t/ha. Sementara Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) juga telah mengadakan penelitian tanaman gandum sejak tahun 1984. Di antara galur mutan gandum tersebut, galur mutan CPN-1 (Son10-1) dan CPN-2 (SA10-22) yang memiliki daya kecambah dan daya tumbuh cukup baik. Bekerjasama dengan India, Pakistan, Cina dan Thailand juga telah diteliti tiga varietas gandum dari CIMMYT yaitu Punjab 81 (Acc. No. BW8623), WL2265 (Acc. No. BW11096), dan SA-75 (Acc. No. BW 6277.

Jugaa telah diluncurkan 3 varietas gandum nasional Nias dan Dewata. Penelitian di beberapa daerah lainnya di Indonesia juga membuktikan bahwa gandum dataran rendah (tropis) dapat berbunga lebih cepat (35-51 hari) dibandingkan dengan gandum dataran tinggi (55-60 hari). Namun, jika ditanam pada suhu normal (tropis), gandum sering kali mendapat gangguan penyakit karat. Beberapa galur/varietas gandum yang dikembangkan di dataran rendah (5 m dpl) Merauke pada Juni-September 2009 memberi hasil 1,3-2,4 t/ha (Tabel 1). Hasil tertinggi 2,4 t/ha diberikan oleh varietas introduksi OASIS/SKAUZ//4*BCN, lebih tinggi dibanding varietas unggul nasional Selayar, Nias, dan Dewata dengan hasil masing-masing 1,9 t, 1,6 t, dan 1,3 t/ha.

Hasil varietas OASIS/SKAUZ/4*BCN kemungkinan masih dapat ditingkatkan jika fase pembungaannya bertepatan dengan suhu dingin yang berhembus dari Australia pada akhir Juni hingga pertengahan Agustus, sehingga gandum harus ditanam pada awal Juni. Suhu selama pengujian di lapangan berkisar antara 22,5-31o C. Di daerah subtropis, tanaman gandum dapat tumbuh optimum pada suhu 4-31o C dan suhu optimum 20oC. Jika pada suhu rata-rata lebih tinggi dari 22,5o C gandum mampu menghasilkan 2,37 t/ha maka ada peluang untuk mendapatkan gandum tropis yang berpotensi hasil cukup tinggi. Oleh karena itu, variabilitas genetik koleksi plasma nutfah gandum harus diketahui untuk memudahkan perakitan varietas unggul. (Sumber:Balai Penelitian Tanaman Serealia/Batan)

Click to comment