Awas Tiga Hama Utama di Musim Kemarau

Musim kemarau yang cenderung panas dan kering membuat beberapa jenis hama tumbuh berkembang lebih cepat, bahkan bisa meledak menjadi serangan yang sangat merugikan peteni. Pengalaman para petani dan kajian para peneliti menunjukkan, ada tiga hama utama yang perlu diwaspadai di musim kemarau, yaitu: Wereng coklat, tikus dan walang sangit. Berikut ini beberapa langkah efektif untuk mencegah serangan ketiga hama tersebut.


Membuat Tikus Sawah Menyerah

Tikus sawah merupakan hama penting tanaman padi yang tiap tahun serangannya lebih dari 17 % dari total luas arel padi. Hal ini disebabkan karena pengendalian hama tikus oleh petani selalu terlambat karena mereka mengendalikan setelah terjadi serangan dan kurang melakukan monitoring. Berikut ini beberapa cara untuk pengendalian hama tikus.
  1. Menerapkan pola tanam yang teratur dan waktu tanam yang serempak (tidak lebih dari 2 minggu).
  2. Periode bera/pengolahan tanah. Dilakukan gropyokan massal atau berburu tikus oleh semua anggota kelompok tani. Kegiatan tersebut dapat berupa pembongkaran sarang tikus pada habitat utama seperti tanggul irigasi, jalan, rel kerata api, lahan kosong dan lainnya. Apabila populasi tikus sangat tinggi dapat digunakan rodentisida antikoagulan Sidarat 0,005 BB (brodifakum 0,005%), produksi PT Petrosida Gresik.
  3. Periode persemaian. Pada daerah endemik tikus, persemaian padi agar dilindungi pagar pelastik dan dipasang dua bubu perangkap untuk persemaian berukuran 10 m x 10 m. Pada musim kemarau disarankan dipasang bubu perangkap (Trap Barrier System = TBS) ukuran 15 m x 15 m untuk setiap 15 ha ditetapkan di dekat habitat utama tikus dan dilakukan pengambilan tangkapan tikus setiap hari sampai panen.
  4. Periode padi vegetatif. Sanitasi gulma pada habitat tikus, baik yang ada di hamparan sawah maupun di sekitar sawah agar tidak digunakan sebagai sarang tikus. Dilakukan pengendalian secara mekanis, rodentisida bila populasi masih tinggi, pasang (Linier Trap Barrier System = LTBS) di dekat habitat utama dan dipindahkan setiap 5 hari, serta lakukan fumigasi sarang tikus.
  5. Periode padi generatif. Lakukan fumigasi asap belerang pada setiap sarang aktif tikus, sanitasi gulma pada habitat utama dan pasang LTBS di dekat habitat utama secara periodik. (Guntur/Petrosida)

Cara Tepat Cegah Wereng Coklat

Wereng coklat (Nilaparvata lugens) sampai saat ini masih dianggap sebagai hama utama pada tanaman padi karena kerusakan yang diakibatkan cukup luas dan hampir terjadi pada setiap musim tanam. Langkah pencegahan hama wereng coklat secara umum dapat dilakukan dengan cara menggunakan variatas tahan, penanaman padi serempak dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pergiliran varietas dan pengendalian dengan insektisida. Agar pencegahan lebih optimal bisa dilakukan upaya sebagai berikut:
  1. Bersihkan gulma,singgang dari sawah dan areal sekitarnya.
  2. Hindari penggunaan pestisida secara tidak tepat yang dapat menyebabkan terbunuhnya musuh alami.
  3. Gunakan varietas tahan wereng seperti Ciherang, Mekongga, dan Cigeulis.
  4. Gunakan varietas tahan tungro seperti IR-50, IR-64, Citanduy, Dodokan, IR –66, IR-70, Barumun, kelara, memberamo, IR-36, IR-42, Semeru, Ciliwung , Kr. Aceh, Sadang, Cisokan, Bengawan , Citarum dan terakhir adalah Serayu.
  5. Jumlah kritis: pada kepadatan 1 wereng coklat/batang atau kurang, masih ada peluang menekan populasi.
  6. Amati wereng di persemaian setiap hari, atau setiap minggu setelah tanam pindah pada batang dan permukaan air. Periksa kedua sisi persemaian. Pada tanaman yang lebih tua, pegang tanaman dan rebahkan sedikit dan tepuk dengan pelan dekat bagian basal untuk melihat kalau ada wereng yang jatuh ke permukaan air.
  7. Gunakan perangkap cahaya waktu malam ketika terlihat ada gejala serangan wereng. Jangan tempatkan cahaya dekat persemaian atau sawah. Bila perangkap cahaya diserbu oleh berates wereng, berarti persemaian dan sawah perlu segera diperiksa; lalu amati setiap hari dalam beberapa minggu berikutnya.
  8. Pergunakan pupuk lengkap dengan komposisi dosis 200 kg Urea, 300 kg NPK dan 500 kg Petroganik. (2:3:5)
  9. SP36, dan 100 kg KCl/ha dapat membantu upayaSP36, dan 100 kg KCl/ha dapat membantu upaya pencegahan (dari beberapa sumber/ Windra)

Mengendalikan Walang Sangit

Di Indonesia walang sangit (Leptocorisa oratorius) merupakan hama potensial yang sangat merugikan petani. Hasil penelitian menunjukkan populasi walang sangit 5 ekor per 9 rumpun padi akan menurunkan hasil 15%. Walang sangit merupakan hama yang menghisap cairan bulir pada fase masak susu. Kerusakan yang ditimbulkan walang sangit menyebabkan beras berubah warna, mengapur serta hampa karena walang sangit menghisap cairan dalam bulir padi. Fase tanaman padi yang rentan terserang hama walang sangit adalah saat tanaman padi mulai keluar malai sampai fase masak susu. Hama ini dapat dikendalikan melalui beberapa langkah sebagai berikut:

– Penanaman padi serentak
–  Mengendalikan gulma, baik yang ada di sawah maupun yang ada di sekitar pertanaman.
–  Meratakan lahan dengan baik dan memupuk tanaman secara merata agar tanaman tumbuh seragam.
–  Menangkap walang sangit dengan menggunakan jaring sebelum stadia pembungaan.
– Melakukan pengendalian hayati dengan cara melepaskan predator alami beruba laba-laba dan menanam jamur yang dapat menginfeksi walang sangit.
–  Mengumpan walang sangit dengan ikan yang sudah busuk, daging yang sudah rusak, atau dengan kotoran ayam.

–  Menggunakan insektisida bila diperlukan dan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi. Pengendalian bisa dilakukan dengan menggunakan Sidabas 500 EC (BPMC 500 g/l), Sidacin 50 WP (MIPC 50%) dan Sidatan 410 SL (dimehipo). (dari beberapa sumber/Guntur)

Click to comment